Pantai Watu Ulo

Pantai Watu Ulo, atau dalam bahasa Jawa berarti Batu Ular, terletak di desa Sumberejo, kecamatan Ambulu, sekitar 40 Km sebelah selatan kota Jember. Disebut Watu Ulo karena mengacu pada rangkaian batu karang yang memanjang dari pesisir pantai ke laut. Pantai ini banyak dikunjungi saat hari libur ataupun hari biasa. Dengan keindahan pantai dan alam sekitar pantai membuar pantai ini terkenal di kawasan Jember. Selain itu, setiap tanggal 7 syawal atau saat hari raya ketupat, selalu diadakan upacara Larung Sesaji, dimana para nelayan melempar sesaji ke laut sebagai tanda persembahan dan ucap syukur.

Kota Jember di Jawa Timur punya Pantai Papuma sebagai ikon wisata andalan. Tapi tahukah Anda, dulu yang jadi ikon pantai Jember adalah Watu Ulo. Papuma dan Watu Ulo adalah dua pantai yang menjadi ikon Kota Jember. Namun Pantai Watu Ulo terlebih dahulu dibuka untuk umum. Awalnya Watu Ulo lebih tersohor, sebelum Papuma dibuka untuk umum. Pesonanya masih ada, namun semakin lama semakin redup seiring menanjaknya kepopuleran Pantai Papuma. Seakan dianak tirikan, Pantai Watu Ulo kini dipenuhi sampah yang berceceran. Pengelolanya terkesan tidak terlalu memperhatikan pantai eksotis berpasir hitam ini. Bagaimana tidak, saat datang mengunjungi pantai tersebut, parkiran mobil yang kosong melompong. Padahal saat itu adalah hari libur nasional. Kondisi yang sangat kontras dengan Pantai Papuma yang dipadati pengunjung.

Padahal di Pantai Watu Ulo juga terdapat gua kelelawar atau Gua Lawa. Panjangnya lebih dari 100 meter, dihuni oleh banyak sekali kelelawar. Pengunjung bisa memasuki gua tersebut melewati pantai berpasir. Karena tempatnya yang sunyi, gua ini sering dijadikan tempat meditasi bagi beberapa warga. Selain Gua Lawa ada pula Gua Jepang, yang sebenarnya adalah benteng peninggalan tentara Jepang. Saat Indonesia masih dibawah jajahan Jepang, sekitar Pantai Watu Ulo dijadikan tempat pertahanan agar musuh tidak menyusup lewat pantai. Ada 5 benteng, semuanya bisa Anda kunjungi untuk berwisata. Batu-batu di pantai Watu Ulo memiliki kisah tersendiri. Bukan kisah percintaan atau yang sejenisnya, melainkan kisah pertarungan antara manusia dengan seekor ular besar.

Konon pada zaman dulu, hiduplah suami istri bernama Aki dan Nini Sambi. Keduanya dikaruniai anak yaitu Joko Samudera. Sang ayah bertugas mencari kayu bakar di perbukitan sekitar pantai, sementara sang anak mencari ikan di laut. Pada suatu hari, Aki dan Nini Sambi yang sedang mencari kayu bakar mendengar suara tangis bayi. Mereka pun mencari sumber bunyi itu, dan menemukan seorang bayi lelaki. Merasa tak tega, Nini Sambi langsung jatuh hati dan merawat sang bayi. Pasangan itu kemudian memberi nama sang bayi yaitu Marsudo.

Waktu berlalu, kedua laki-laki ini tumbuh dewasa. Mereka bergantian mencari ikan di laut. Suatu kali Marsudo mencari ikan, dia kaget bukan kepalang karena saat mata pancingnya diangkat, yang didapatnya adalah ikan besar yang bisa berbicara. Ikan bernama Raja Mina itu ingin Marsudo melepas dirinya. Sebagai gantinya, sang ikan akan mengabulkan setiap keinginannya. Marsudo pun melepaskan Raja Mina. Dengan penuh ucapan terima kasih, ikan besar itu langsung berenang. Namun apes bagi Marsudo, setibanya di rumah dia langsung dimarahi kedua orang tuanya karena melepas ikan yang begitu besar.

Tak tega melihat saudaranya dimarahi, Joko Samudera pergi memancing ke laut untuk menggantikan adiknya. Alih-alih mendapat ikan, dia malah mendapat seekor ular laut yang sangat besar. Ular itu mengamuk saat kait pancing Joko Samudera melukai tubuhnya. Keduanya berduel sengit, sama-sama tak mau menyerah. Melihat sang kakak berjibaku melawan ular raksasa, Marsudo berinisatif memanggil Raja Mina yang dia selamatkan sebelumnya. Ia meminta janji Raja Mina untuk menuruti permintaannya, yakni memenangkan kakaknya saat melawan ular raksasa.

Mendengar permintaan Marsudo, Raja Mina pun memberinya sebatang cemeti. Ikan yang bisa bicara itu berpesan untuk memukul tubuh si ular dua kali, maka tubuhnya akan terbelah jadi tiga. Pisahkan ketiga bagian tubuhnya ke 3 tempat sehingga tak bisa bersatu lagi. Kalau bersatu, ular itu akan hidup kembali. Ular itu pun bisa ditaklukkannya. Sekarang, di pinggir pantai, ada gugusan batu yang mirip dengan anatomi tubuh ular raksasa. Panjang dan berlekuk, permukaannya seperti sisik. Oleh karena itu, mari kita jaga kelestarian alam sekitar. Jangan cuma mengunjungi suatu tempat, wisatawan juga wajib menjaganya. Keajaiban alam Indonesia tidak ada habisnya. Tampaknya suatu tempat memang diciptakan untuk kita nikmati dengan sikap yang bertanggungjawab.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s